Kenapa umat Islam susah bersatu? _ Nasionalisme vs ukhuwah umat

 


Kenapa umat Islam susah bersatu?

Nasionalisme vs ukhuwah umat

 

1. Akar masalah menurut kitab: mengapa umat Islam sulit bersatu?

Penyebab utama sulitnya persatuan umat adalah berubahnya ikatan (rābithah) umat dari aqidah Islam menuju ikatan nasionalisme, patriotisme, dan kesukuan.

 

Dahulu umat Islam diikat oleh ukhuwah Islamiyah berbasis aqidah, sedangkan sekarang diganti dengan:

  • Nasionalisme / qaumiyah (القومية)
  • Patriotisme / wathaniyah (الوطنية)
  • Kesukuan (‘ashabiyah)
  • Loyalitas negara-bangsa modern

 

Hubungan ukhuwah Islam di antara kaum Muslimin telah digantikan oleh hubungan nasionalistik.

 

Muslim Turki dianggap asing di Suriah, Muslim Iran dianggap asing di Lebanon, dan Muslim India dianggap asing di Hijaz.

 

Ini dijadikan contoh bahwa identitas “negara” telah mengalahkan identitas “umat Islam”.

 

Pola perubahan :

Dahulu dan

Sekarang

Ikatan aqidah Islam >

Ikatan negara

Sesama Muslim = saudara

>Sesama warga negara = saudara

Umat satu kesatuan >

Terpecah negara-bangsa

Loyalitas pada Islam >

Loyalitas pada tanah air

 

Nasionalisme menjadi semacam “baji pemecah” (الإسفين) yang membelah kesatuan umat Islam.

 

2. Dalil syar’i yang dijadikan dasar ukhuwah umat

Dalil 1 — QS Al-Hujurat: 10

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

Ayat ini dikutip secara eksplisit dalam kitab ketika menjelaskan bahwa satu-satunya pengikat kaum Muslim adalah iman.

 

Hujjah yang dibangun:

  • Allah tidak berkata “orang satu bangsa itu bersaudara”
  • Tidak pula “orang satu tanah air itu bersaudara”
  • Tetapi orang beriman (المؤمنون) adalah saudara.

Karena itu, dasar ukhuwah adalah aqidah, bukan etnis atau kebangsaan.

 

Dalil 2 — Hadits ukhuwah

juga mengutip hadits:

المسلم أخو المسلم

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya.”

Argumentasi :

Hadits ini bersifat umum (ām) tanpa pembatas:

  • tidak dibatasi bangsa,
  • tidak dibatasi ras,
  • tidak dibatasi wilayah.

Artinya:

  • Muslim Indonesia ↔ Muslim Turki = saudara
  • Muslim Arab ↔ Muslim India = saudara
  • Muslim Afrika ↔ Muslim Melayu = saudara

 

Persaudaraan dibangun atas Islam, bukan paspor.

 

Dalil 3 — Praktik Rasul di Madinah

Dalam kitab Ad-Daulah al-Islamiyyah, dijelaskan bahwa Rasulullah membangun masyarakat Madinah di atas aqidah Islam, bukan tribal Arab.

 

Contoh yang disebut:

Rasulullah mempersaudarakan:

  • Muhajirin dengan Anshar
  • bukan berdasarkan kabilah,
  • bukan berdasarkan darah,
  • tetapi atas dasar iman.

 

Misalnya:

  • Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa‘d bin Rabi‘,
  • Umar bin Khattab dengan ‘Itban bin Malik.

 

Rasul tidak mempertahankan solidaritas kesukuan jahiliyah, tetapi menggantinya dengan ukhuwah iman.

 

3. Mengapa nasionalisme dianggap problem?

A. Nasionalisme memindahkan loyalitas

Sebelumnya:

loyal kepada umat Islam.

Sekarang:

loyal kepada negara.

 

Kaum Muslim lebih mudah tersentuh oleh seruan:

“bela tanah air”

dibanding seruan:

“persatuan Islam” atau “kembalinya kesatuan umat”.

 

ini tanda bahwa identitas Islam turun ke posisi kedua.

 

B. Nasionalisme membelah umat menjadi “asing”

kondisi yang dianggap paradoks:

Seorang Muslim bisa dianggap:

“orang asing”

padahal sama-sama Muslim hanya karena berbeda negara.

Argumentasi :

Jika aqidah adalah pengikat utama, maka konsep:

“Muslim asing”

seharusnya tidak dominan dalam kesadaran umat.

 

C. Nasionalisme dipandang sebagai warisan kolonial

Dalam Ad-Daulah al-Islamiyyah, dijelaskan bahwa kolonialisme Barat menyebarkan:

  • nasionalisme Arab,
  • nasionalisme Turki,
  • patriotisme wilayah,

 

untuk memisahkan umat dari ikatan Islam.

Kitab menggambarkan strategi itu:

  1. membangkitkan identitas etnis,
  2. melemahkan identitas Islam,
  3. memecah wilayah umat,
  4. lahirlah negara-negara nasional.

 

4. Hujjah ulama: nasionalisme vs Islam

hujjah yang digunakan bukan bahwa cinta tanah air otomatis haram, tetapi bahwa:

menjadikan nasionalisme sebagai asas loyalitas politik dan identitas umat adalah masalah.

 

Karena Islam menjadikan aqidah sebagai pengikat.

Islam sangat tegas menolak:

  • partai berbasis nasionalisme,
  • perjuangan berbasis qaumiyah,
  • gerakan berbasis wathaniyah,

 

karena dianggap mengganti asas Islam dengan asas selain Islam.

 

Dalam Afkar Siyasiyah, disebut tidak boleh membangun pengelompokan atas asas:

قومية (nasionalisme), وطنية (patriotisme), إقليمية (regionalisme)

melainkan atas asas Islam.

 

5. Argumentasi logis

Secara logika, islam membangun premis seperti ini:

 

Islam memerintahkan persaudaraan iman.

 

Nasionalisme membatasi loyalitas pada bangsa/negara.

 

Jika loyalitas negara lebih kuat dari loyalitas iman,

maka umat otomatis terpecah.

 

Kesimpulan

Persatuan umat sulit terjadi karena asas persatuan telah berubah.

 

6. Kritik penting

 

Ukhuwah Islamiyah harus berada di atas nasionalisme.

Dalam kerangka politik umat dan persatuan peradaban Islam, bukan sekadar hubungan sosial biasa.

 

Artinya, problem yang dibahas bukan:

“bolehkah mencintai negeri?”

melainkan:

“identitas mana yang menjadi pengikat tertinggi umat?”

 

Dan jawaban sangat jelas:

aqidah Islam adalah pengikat utama umat, bukan bangsa atau tanah air.

 

Penutup :

Solusi persatuan umat bukan dimulai dari slogan persaudaraan semata, tetapi dari:

  1. mengembalikan identitas Islam sebagai identitas utama,
  2. mengurangi fanatisme bangsa/suku,
  3. membangun kesadaran bahwa Muslim lintas negara tetap satu umat,
  4. menjadikan ukhuwah berbasis aqidah lebih tinggi daripada batas politik modern.

 


#Islam #UkhuwahIslamiyah #PersatuanUmat #UmatIslam #MuslimBersatu #Nasionalisme #Khilafah #DakwahIslam #KajianIslam #IslamicReminder #IslamicKnowledge #MuslimIndonesia #SejarahIslam #PemikiranIslam #PolitikIslam #AqidahIslam #Hijrah #DakwahDigital #FypIslam #FBPro #ViralIslam #KontenIslam #ReelsIslam #BelajarIslam #IslamRahmatanLilAlamin

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kenapa umat Islam susah bersatu? _ Nasionalisme vs ukhuwah umat"

Post a Comment